Difference between revisions of "Resume 1 Afi"

From ccitonlinewiki
Jump to: navigation, search
(Created page with " == '''RESUME KOMPUTASI TEKNIK''' == 4 Februari 2019 08.00 – 10.00 WIB Ditulis oleh : Nama : Hafizha Mulyasih NPM : 1806268780 == '''Syarat Mengikuti Matakuliah Ko...")
 
(Syarat Mengikuti Matakuliah Komputasi Teknik)
 
(One intermediate revision by the same user not shown)
Line 5: Line 5:
  
 
08.00 – 10.00  WIB
 
08.00 – 10.00  WIB
 +
  
 
Ditulis oleh :  
 
Ditulis oleh :  
  
Nama : Hafizha Mulyasih
+
'''Nama : Hafizha Mulyasih
 
 
NPM : 1806268780
 
 
 
  
 +
NPM : 1806268780'''
  
 
== '''Syarat Mengikuti Matakuliah Komputasi Teknik''' ==
 
== '''Syarat Mengikuti Matakuliah Komputasi Teknik''' ==
Line 21: Line 20:
 
Dalam matakuliah Komputasi Teknik terdapat beberapa kriteria :
 
Dalam matakuliah Komputasi Teknik terdapat beberapa kriteria :
  
1. Pernah mengambil matakuliah Matematika Teknik
+
1. '''Pernah mengambil matakuliah Matematika Teknik'''
 +
 
 
Karena ketika mahasiswa sudah mengambil matakuliah tersebut diharapkan mahasiswa sudah mengenal bagaimana komputasi dihasilkan dari numerikal dasar-dasar ilmu matematika
 
Karena ketika mahasiswa sudah mengambil matakuliah tersebut diharapkan mahasiswa sudah mengenal bagaimana komputasi dihasilkan dari numerikal dasar-dasar ilmu matematika
  
  
2. Adalah orang yang berakal
+
2. '''Adalah orang yang berakal'''
 +
 
 
Manusia dianugerahi akal oleh Tuhan, dan manusia berakal ada sejak nabi Adam diciptakan. Namun apakah semua manusia menggunakan akalnya? Lantas timbul pertanyaan seperti apa ciri orang yang dikatakan berakal?  
 
Manusia dianugerahi akal oleh Tuhan, dan manusia berakal ada sejak nabi Adam diciptakan. Namun apakah semua manusia menggunakan akalnya? Lantas timbul pertanyaan seperti apa ciri orang yang dikatakan berakal?  
 
Dari hasil diskusi yang dilakukan muncul beberapa pendapat terkait apa yang dimaksud dengan manusia yang berakal, diantaranya berpendapat bahwa orang yang berakal adalah orang yang mampu berpikir dengan logis, adapun yang berpendapat bahwa berakal adalah orang yang mampu melakukan apa yang dia katakan, hingga diskusi membahas perbedaan manusia dengan hewan yang hakikatnya manusia memang diberikan akal sedangkan hewan tidak, padahal hewan juga memiliki otak jika tinjauan berakal adalah hanya sebatas mampu berpikir, karena hewan juga mampu berpikir dan bertindak untuk kehidupannya. Dibahas pula bahwa akal tak hanya sekedar mampu megendlikan pikiran sebagai manusia juga diberikan akal untuk mengendalikan hawa nafsu yang mana pada bagian ini sangat jelas terlihat pebedaan manusia dengan hewan. Secara simpel jika kita diberi pertanyaan matematika x² – 1 / x – 1 , x = 1 Apakah kita mampu menyelesaikannya menggunakan akal kita? Jelas bisa. Namun jika pertanyaan tersebut kita berikan kepada hewan maka tentu tidak akan terjawab. Jika mengacu pada Al-Quran sebagai referensi maka yang dikatakan orang berakal adalah orang yang dalam keadaan duduk, berdiri, tidur, dan seluruh kegiatannya selalu mengingat Tuhannya Sang Pencipta, termasuk mengingat dan memikirkan segala ciptaan-Nya. Sehingga manusia dalam berlogika terkait sifat infinite seharusnya mampu di jabarkan melalui logika  dengan menggunakan akal. Contoh jika kita ingin memprediksi berapa power energi dari Tuhan yang dikatakan tak hingga, jelas dapat dilogika kan dilihat dari berapa energi yang dihasilkan matahari, kemudian jika logika kita digunakan untuk menjabarkan konsep ruang dan waktu maka konsep infinite juga melogikakan bagaimana kecepatan paling tinggi yaitu cahaya sebesar 3.00×108 m/s dan lain sebagainya kaitannya dengan Sang Pencipta dan segala ciptaan-Nya.
 
Dari hasil diskusi yang dilakukan muncul beberapa pendapat terkait apa yang dimaksud dengan manusia yang berakal, diantaranya berpendapat bahwa orang yang berakal adalah orang yang mampu berpikir dengan logis, adapun yang berpendapat bahwa berakal adalah orang yang mampu melakukan apa yang dia katakan, hingga diskusi membahas perbedaan manusia dengan hewan yang hakikatnya manusia memang diberikan akal sedangkan hewan tidak, padahal hewan juga memiliki otak jika tinjauan berakal adalah hanya sebatas mampu berpikir, karena hewan juga mampu berpikir dan bertindak untuk kehidupannya. Dibahas pula bahwa akal tak hanya sekedar mampu megendlikan pikiran sebagai manusia juga diberikan akal untuk mengendalikan hawa nafsu yang mana pada bagian ini sangat jelas terlihat pebedaan manusia dengan hewan. Secara simpel jika kita diberi pertanyaan matematika x² – 1 / x – 1 , x = 1 Apakah kita mampu menyelesaikannya menggunakan akal kita? Jelas bisa. Namun jika pertanyaan tersebut kita berikan kepada hewan maka tentu tidak akan terjawab. Jika mengacu pada Al-Quran sebagai referensi maka yang dikatakan orang berakal adalah orang yang dalam keadaan duduk, berdiri, tidur, dan seluruh kegiatannya selalu mengingat Tuhannya Sang Pencipta, termasuk mengingat dan memikirkan segala ciptaan-Nya. Sehingga manusia dalam berlogika terkait sifat infinite seharusnya mampu di jabarkan melalui logika  dengan menggunakan akal. Contoh jika kita ingin memprediksi berapa power energi dari Tuhan yang dikatakan tak hingga, jelas dapat dilogika kan dilihat dari berapa energi yang dihasilkan matahari, kemudian jika logika kita digunakan untuk menjabarkan konsep ruang dan waktu maka konsep infinite juga melogikakan bagaimana kecepatan paling tinggi yaitu cahaya sebesar 3.00×108 m/s dan lain sebagainya kaitannya dengan Sang Pencipta dan segala ciptaan-Nya.
  
  
3. Pernah menggunakan software Teknik
+
3. '''Pernah menggunakan software Teknik'''
 +
 
 
Setidaknya mahasiswa mengenal software Teknik dan pernah menggunakan software keteknikan pada jenjang S1, dikarenakan terbiasa menggunakan software yang berkaitan dengan Teknik, statistik dan software office lainnya dapat menjadi tolak ukur kemampuan mahasiswa dalam memahami materi terkait komputasi teknik. Komputasi ada untuk menyelesaikan hal yang tidak bisa dilakukan dengan hanya analisis manual. Seperti untuk melakukan perhitungan atau input data yang rumit dan membantu menyelesaikannya dalam hal analisis. Ada 3 objek dalam komputasi teknik:  
 
Setidaknya mahasiswa mengenal software Teknik dan pernah menggunakan software keteknikan pada jenjang S1, dikarenakan terbiasa menggunakan software yang berkaitan dengan Teknik, statistik dan software office lainnya dapat menjadi tolak ukur kemampuan mahasiswa dalam memahami materi terkait komputasi teknik. Komputasi ada untuk menyelesaikan hal yang tidak bisa dilakukan dengan hanya analisis manual. Seperti untuk melakukan perhitungan atau input data yang rumit dan membantu menyelesaikannya dalam hal analisis. Ada 3 objek dalam komputasi teknik:  
 
1. Hardware terkait perangkat yang dipergunakan seperti monitor, keyboard dan lain sebaganya.
 
1. Hardware terkait perangkat yang dipergunakan seperti monitor, keyboard dan lain sebaganya.
Line 37: Line 39:
  
  
4. Ketika UTS/UAS yang akan dilihat adalah bagaimana kita muhasabah  
+
4. '''Ketika UTS/UAS yang akan dilihat adalah bagaimana kita muhasabah'''
 +
 
Mengenal diri sehingga kita mampu menilai diri kita sendiri mengenai kepantasan penilaian yang didapat dari segala usaha dan pencapaian ilmu yang kita usahakan untuk dapat memahaminya. Karena penilaian akhir yang A, B, C atau D didapat dari sudut pandang dosen yang dimana nilai yang menjadi harafiah umum adalah hanya sebatas angka untuk diperoleh, sedangkan ilmu yang kita capai adalah nilai pemahaman sesungguhnya yang merupakan tujuan utama dalam proses kita menuntut ilmu. Adapun jika mahasiswa merasa sudah mampu memahami secara menyeluruh materi komputasi Teknik dipersilahkan untuk mengajukan diri tes kemampuan, namun proses mendapatkan ilmu itu yang dirasa merupakan manfaat terbesar yang berdampak bagi pengembangan akal. Muhasabah yakni mengenal tentang siapa diri kita sendiri juga berkaitan dengan bagaimana mengenal Tuhan. Namun ada 5 faktor yang membuat kita akan tak mampu mengenal Tuhan diantaranya :
 
Mengenal diri sehingga kita mampu menilai diri kita sendiri mengenai kepantasan penilaian yang didapat dari segala usaha dan pencapaian ilmu yang kita usahakan untuk dapat memahaminya. Karena penilaian akhir yang A, B, C atau D didapat dari sudut pandang dosen yang dimana nilai yang menjadi harafiah umum adalah hanya sebatas angka untuk diperoleh, sedangkan ilmu yang kita capai adalah nilai pemahaman sesungguhnya yang merupakan tujuan utama dalam proses kita menuntut ilmu. Adapun jika mahasiswa merasa sudah mampu memahami secara menyeluruh materi komputasi Teknik dipersilahkan untuk mengajukan diri tes kemampuan, namun proses mendapatkan ilmu itu yang dirasa merupakan manfaat terbesar yang berdampak bagi pengembangan akal. Muhasabah yakni mengenal tentang siapa diri kita sendiri juga berkaitan dengan bagaimana mengenal Tuhan. Namun ada 5 faktor yang membuat kita akan tak mampu mengenal Tuhan diantaranya :
  
a. Kedudukan Jabatan
+
'''a. Kedudukan Jabatan'''
 +
 
 
Orang yang memiliki jabatan tinggi biasanya sangat rawan untuk lupa dengan sang Pencipta karena merasa hebat dan haus kedudukan.
 
Orang yang memiliki jabatan tinggi biasanya sangat rawan untuk lupa dengan sang Pencipta karena merasa hebat dan haus kedudukan.
  
b. Harta
+
'''b. Harta'''
 +
 
 
Manusia dalam perjalanan kehidupan beriringan dengan waktu tidak selalu bersifat linear. Maka belum tentu jika uang banyak maka hidup bahagia. Karena itu adalah pemikiran yang linear. Padahal hidup itu tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Terkadang harta banyak justru membuat tidak tenang dan harta seringkali membuat kita lupa akan Tuhan.
 
Manusia dalam perjalanan kehidupan beriringan dengan waktu tidak selalu bersifat linear. Maka belum tentu jika uang banyak maka hidup bahagia. Karena itu adalah pemikiran yang linear. Padahal hidup itu tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Terkadang harta banyak justru membuat tidak tenang dan harta seringkali membuat kita lupa akan Tuhan.
  
c. Ilmu (persepsi tak benar)
+
'''c. Ilmu (persepsi tak benar)'''
 +
 
 
Pada hakikatnya manusia mencari ilmu sejak terlahir didunia hingga akhir hayat. Namun terkadang manusia tersesat dalam kebingungan atas persepsi bahwa dirinya benar padahal bisa jadi salah atau bahkan berpegang teguh pada persepsi tak benar yang ia yakini. Orang yang mampu berfikir untuk mencari kebenaran walaupun kebenaran yang dikatakan benar oleh seseorang yang misalkan karena jabatan tertentu menyatakan A maka dirasa sudah benar adanya, contoh : sebuah pergerakan suatu benda, ketika benda di arahkan ke suatu vector tertentu pada dua buah titik A dan B, A berpendapat bahwa benda bergerak menjauh sedangkan B berpendapat bahwa benda bergerak mendekat padahal kedua pendapat tersebut bisa jadi sama-sama benar hanya berbeda sudut pandang dan diperlukan satu acuan yang diakui secara universal dan diterima untuk melihat sudut pandang yang mampu diakui kebenarannya.
 
Pada hakikatnya manusia mencari ilmu sejak terlahir didunia hingga akhir hayat. Namun terkadang manusia tersesat dalam kebingungan atas persepsi bahwa dirinya benar padahal bisa jadi salah atau bahkan berpegang teguh pada persepsi tak benar yang ia yakini. Orang yang mampu berfikir untuk mencari kebenaran walaupun kebenaran yang dikatakan benar oleh seseorang yang misalkan karena jabatan tertentu menyatakan A maka dirasa sudah benar adanya, contoh : sebuah pergerakan suatu benda, ketika benda di arahkan ke suatu vector tertentu pada dua buah titik A dan B, A berpendapat bahwa benda bergerak menjauh sedangkan B berpendapat bahwa benda bergerak mendekat padahal kedua pendapat tersebut bisa jadi sama-sama benar hanya berbeda sudut pandang dan diperlukan satu acuan yang diakui secara universal dan diterima untuk melihat sudut pandang yang mampu diakui kebenarannya.
  
d. Mengekor pada sesuatu (fanatic)
+
'''d. Mengekor pada sesuatu (fanatic)'''
 +
 
 
Hanya karena Profesor A menyatakan bahwa suatu hal adalah “Benar” maka kita menerima informasi tersebut dengan mentah sehingga menganggap hal yang lain salah, kita meyakinin dan berpedoman pada satu indvidu yang selalu kita agungkan bahwa itu benar. Padahal kita bisa jadi mengikuti hal yang salah, dan banyak diantara kita yang justru ribut membela mati-matian sesuatu yang bisa jadi hoax. Sebagai orang yang punya gelar tertentu pun harus pandai menggunakan akal untuk tidak salah memberi informasi atau ilmu agar tidak menjerumuskan pada kesesatan.  
 
Hanya karena Profesor A menyatakan bahwa suatu hal adalah “Benar” maka kita menerima informasi tersebut dengan mentah sehingga menganggap hal yang lain salah, kita meyakinin dan berpedoman pada satu indvidu yang selalu kita agungkan bahwa itu benar. Padahal kita bisa jadi mengikuti hal yang salah, dan banyak diantara kita yang justru ribut membela mati-matian sesuatu yang bisa jadi hoax. Sebagai orang yang punya gelar tertentu pun harus pandai menggunakan akal untuk tidak salah memberi informasi atau ilmu agar tidak menjerumuskan pada kesesatan.  
  
e. Maksiat (termasuk nyontek)
+
'''e. Maksiat (termasuk nyontek)'''
 +
 
 
Factor ke-5 adalah maksiat, jelas hal ini dapat membat kita sangat jauh dari mengenal Tuhan. Bahkan kegiatan mencotek dalam menuntut ilmu pun merupakan salah satu contoh dari maksiat.
 
Factor ke-5 adalah maksiat, jelas hal ini dapat membat kita sangat jauh dari mengenal Tuhan. Bahkan kegiatan mencotek dalam menuntut ilmu pun merupakan salah satu contoh dari maksiat.
 
Sejauh ini ilmu yang paling benar adalah ilmu Pancasila, dimana dalam setiap sila nya terdapat nilai-nilai yang mencakup kehidupan berilmu yang lengkap, diantaranya: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradam, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permustyawaratan perwakilan, Keadilan social  Motivasi dalam menuntut ilmu diharapkan bukan hanya sekedar mencari angka (ponten) namun mencari nilai-nilai kebenaran dengan niat “Saya ingin berilmu, mencari ilmu karena selalu ingin terus berakal (mengingat Tuhan)”. Diharapkan mahasiswa berpedoman pada kitab suci dari agaman masing-masing untuk mencari ilmu kebenaran sebagai referensi, muslim dari Al-Quran, Kristen dari Injil, dan agama lainnya sesuai ajarannya.
 
Sejauh ini ilmu yang paling benar adalah ilmu Pancasila, dimana dalam setiap sila nya terdapat nilai-nilai yang mencakup kehidupan berilmu yang lengkap, diantaranya: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradam, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permustyawaratan perwakilan, Keadilan social  Motivasi dalam menuntut ilmu diharapkan bukan hanya sekedar mencari angka (ponten) namun mencari nilai-nilai kebenaran dengan niat “Saya ingin berilmu, mencari ilmu karena selalu ingin terus berakal (mengingat Tuhan)”. Diharapkan mahasiswa berpedoman pada kitab suci dari agaman masing-masing untuk mencari ilmu kebenaran sebagai referensi, muslim dari Al-Quran, Kristen dari Injil, dan agama lainnya sesuai ajarannya.

Latest revision as of 01:28, 17 February 2019

RESUME KOMPUTASI TEKNIK

4 Februari 2019

08.00 – 10.00 WIB


Ditulis oleh :

Nama : Hafizha Mulyasih

NPM : 1806268780

Syarat Mengikuti Matakuliah Komputasi Teknik

Dosen : Dr. Ahmad Indra (DAI) / (Aki DAI : Opsional)

Ilmu didapat tidak hanya dari satu sumber dalam perkuliahan contoh hanya dari dosen kemudian mahasiswa hanya menerima ilmu atau informasi tersebut tanpa ditelaah lebih jauh terkait ilmu yang disampaikan. Pada era sekarang ini sumber ilmu dapat kita temukan dari banyak sumber, hanya saja bagaimana kita memilah ilmu atau informasi tersebut dengan menguji kebenarannya. Dosen berkewajiban menyampaikan ilmu sebagai sumber ilmu utama dalam sesi perkuliahan. Pada hakikatnya mahasiswa pun selain berhak menerima ilmu dari dosen juga berkewajiban mencari ilmu dari sumber manapun. Dalam matakuliah Komputasi Teknik terdapat beberapa kriteria :

1. Pernah mengambil matakuliah Matematika Teknik

Karena ketika mahasiswa sudah mengambil matakuliah tersebut diharapkan mahasiswa sudah mengenal bagaimana komputasi dihasilkan dari numerikal dasar-dasar ilmu matematika


2. Adalah orang yang berakal

Manusia dianugerahi akal oleh Tuhan, dan manusia berakal ada sejak nabi Adam diciptakan. Namun apakah semua manusia menggunakan akalnya? Lantas timbul pertanyaan seperti apa ciri orang yang dikatakan berakal? Dari hasil diskusi yang dilakukan muncul beberapa pendapat terkait apa yang dimaksud dengan manusia yang berakal, diantaranya berpendapat bahwa orang yang berakal adalah orang yang mampu berpikir dengan logis, adapun yang berpendapat bahwa berakal adalah orang yang mampu melakukan apa yang dia katakan, hingga diskusi membahas perbedaan manusia dengan hewan yang hakikatnya manusia memang diberikan akal sedangkan hewan tidak, padahal hewan juga memiliki otak jika tinjauan berakal adalah hanya sebatas mampu berpikir, karena hewan juga mampu berpikir dan bertindak untuk kehidupannya. Dibahas pula bahwa akal tak hanya sekedar mampu megendlikan pikiran sebagai manusia juga diberikan akal untuk mengendalikan hawa nafsu yang mana pada bagian ini sangat jelas terlihat pebedaan manusia dengan hewan. Secara simpel jika kita diberi pertanyaan matematika x² – 1 / x – 1 , x = 1 Apakah kita mampu menyelesaikannya menggunakan akal kita? Jelas bisa. Namun jika pertanyaan tersebut kita berikan kepada hewan maka tentu tidak akan terjawab. Jika mengacu pada Al-Quran sebagai referensi maka yang dikatakan orang berakal adalah orang yang dalam keadaan duduk, berdiri, tidur, dan seluruh kegiatannya selalu mengingat Tuhannya Sang Pencipta, termasuk mengingat dan memikirkan segala ciptaan-Nya. Sehingga manusia dalam berlogika terkait sifat infinite seharusnya mampu di jabarkan melalui logika dengan menggunakan akal. Contoh jika kita ingin memprediksi berapa power energi dari Tuhan yang dikatakan tak hingga, jelas dapat dilogika kan dilihat dari berapa energi yang dihasilkan matahari, kemudian jika logika kita digunakan untuk menjabarkan konsep ruang dan waktu maka konsep infinite juga melogikakan bagaimana kecepatan paling tinggi yaitu cahaya sebesar 3.00×108 m/s dan lain sebagainya kaitannya dengan Sang Pencipta dan segala ciptaan-Nya.


3. Pernah menggunakan software Teknik

Setidaknya mahasiswa mengenal software Teknik dan pernah menggunakan software keteknikan pada jenjang S1, dikarenakan terbiasa menggunakan software yang berkaitan dengan Teknik, statistik dan software office lainnya dapat menjadi tolak ukur kemampuan mahasiswa dalam memahami materi terkait komputasi teknik. Komputasi ada untuk menyelesaikan hal yang tidak bisa dilakukan dengan hanya analisis manual. Seperti untuk melakukan perhitungan atau input data yang rumit dan membantu menyelesaikannya dalam hal analisis. Ada 3 objek dalam komputasi teknik: 1. Hardware terkait perangkat yang dipergunakan seperti monitor, keyboard dan lain sebaganya. 2. Software yakni perangkat lunak seperti aplikasi-aplikasi yang menunjang dalam ilmu komputasi teknik 3. Adalah yang paling penting brainware yaitu sumber daya manusia yang mengoperasikannya. Bagaimana kemampuan mahasiswa dalam penggunaan software. Mahasiswa juga harus berusaha untuk lebih mandiri mencari ilmu. Inisiatif dalam mencari ilmu dan informasi terkait untuk pengembangan ilmu, jangan hanya menunggu satu sumber saja yaitu dari dosen yang kasih ilmunya.


4. Ketika UTS/UAS yang akan dilihat adalah bagaimana kita muhasabah

Mengenal diri sehingga kita mampu menilai diri kita sendiri mengenai kepantasan penilaian yang didapat dari segala usaha dan pencapaian ilmu yang kita usahakan untuk dapat memahaminya. Karena penilaian akhir yang A, B, C atau D didapat dari sudut pandang dosen yang dimana nilai yang menjadi harafiah umum adalah hanya sebatas angka untuk diperoleh, sedangkan ilmu yang kita capai adalah nilai pemahaman sesungguhnya yang merupakan tujuan utama dalam proses kita menuntut ilmu. Adapun jika mahasiswa merasa sudah mampu memahami secara menyeluruh materi komputasi Teknik dipersilahkan untuk mengajukan diri tes kemampuan, namun proses mendapatkan ilmu itu yang dirasa merupakan manfaat terbesar yang berdampak bagi pengembangan akal. Muhasabah yakni mengenal tentang siapa diri kita sendiri juga berkaitan dengan bagaimana mengenal Tuhan. Namun ada 5 faktor yang membuat kita akan tak mampu mengenal Tuhan diantaranya :

a. Kedudukan Jabatan

Orang yang memiliki jabatan tinggi biasanya sangat rawan untuk lupa dengan sang Pencipta karena merasa hebat dan haus kedudukan.

b. Harta

Manusia dalam perjalanan kehidupan beriringan dengan waktu tidak selalu bersifat linear. Maka belum tentu jika uang banyak maka hidup bahagia. Karena itu adalah pemikiran yang linear. Padahal hidup itu tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Terkadang harta banyak justru membuat tidak tenang dan harta seringkali membuat kita lupa akan Tuhan.

c. Ilmu (persepsi tak benar)

Pada hakikatnya manusia mencari ilmu sejak terlahir didunia hingga akhir hayat. Namun terkadang manusia tersesat dalam kebingungan atas persepsi bahwa dirinya benar padahal bisa jadi salah atau bahkan berpegang teguh pada persepsi tak benar yang ia yakini. Orang yang mampu berfikir untuk mencari kebenaran walaupun kebenaran yang dikatakan benar oleh seseorang yang misalkan karena jabatan tertentu menyatakan A maka dirasa sudah benar adanya, contoh : sebuah pergerakan suatu benda, ketika benda di arahkan ke suatu vector tertentu pada dua buah titik A dan B, A berpendapat bahwa benda bergerak menjauh sedangkan B berpendapat bahwa benda bergerak mendekat padahal kedua pendapat tersebut bisa jadi sama-sama benar hanya berbeda sudut pandang dan diperlukan satu acuan yang diakui secara universal dan diterima untuk melihat sudut pandang yang mampu diakui kebenarannya.

d. Mengekor pada sesuatu (fanatic)

Hanya karena Profesor A menyatakan bahwa suatu hal adalah “Benar” maka kita menerima informasi tersebut dengan mentah sehingga menganggap hal yang lain salah, kita meyakinin dan berpedoman pada satu indvidu yang selalu kita agungkan bahwa itu benar. Padahal kita bisa jadi mengikuti hal yang salah, dan banyak diantara kita yang justru ribut membela mati-matian sesuatu yang bisa jadi hoax. Sebagai orang yang punya gelar tertentu pun harus pandai menggunakan akal untuk tidak salah memberi informasi atau ilmu agar tidak menjerumuskan pada kesesatan.

e. Maksiat (termasuk nyontek)

Factor ke-5 adalah maksiat, jelas hal ini dapat membat kita sangat jauh dari mengenal Tuhan. Bahkan kegiatan mencotek dalam menuntut ilmu pun merupakan salah satu contoh dari maksiat. Sejauh ini ilmu yang paling benar adalah ilmu Pancasila, dimana dalam setiap sila nya terdapat nilai-nilai yang mencakup kehidupan berilmu yang lengkap, diantaranya: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradam, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permustyawaratan perwakilan, Keadilan social Motivasi dalam menuntut ilmu diharapkan bukan hanya sekedar mencari angka (ponten) namun mencari nilai-nilai kebenaran dengan niat “Saya ingin berilmu, mencari ilmu karena selalu ingin terus berakal (mengingat Tuhan)”. Diharapkan mahasiswa berpedoman pada kitab suci dari agaman masing-masing untuk mencari ilmu kebenaran sebagai referensi, muslim dari Al-Quran, Kristen dari Injil, dan agama lainnya sesuai ajarannya.