Jenizhar Adivianto

From ccitonlinewiki
Jump to: navigation, search


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُ


BIODATA DIRI


Nama Saya Jenizhar Adivianto akrab di sapa Dio, seorang Mahasiswa Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Indonesia

Nama : Jenizhar Adivianto

NPM : 1806181810

Program Studi : S1 Teknik Mesin Pararel













PERTEMUAN 1 : 31 Maret 2020


Assalamualaikum Wr wb

Pada hari ini saya mendapatkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dari bang Edo melalui aplikasi zoom, yaitu asisten dosen dari pak Dai yang merupakan alumni Teknik Mesin UI 2014 dan sekarang sedang mengambil S2 atas bimbingan Pak Dai. Materi hari ini yang disampaikan ada 2 pembahasan. Pembahasan yang pertama merupakan sedikit ulasan teori mengenai viskositas fluida atau kekentalan fluida. Pembahasan yang kedua merupakan pembelajaran mengenai tutorial penggunaan software CFDsof.

Pada CFD soft kami diajarkan untuk membuat simulasi aliran laminar 2D dengan mengaplikasikan aliran viscous. Diawali dengan menentukan wall, inflow, outflow. Kemudian menentukan mesh dimana pada setiap dindingnya meshnya menjadi lebih detail. menentukan boundary dan akhirnya melakukan simulasi pada Solver dan dapat dilihat hasilnya pada paraview yang otomatis muncul. Pada paraview kita dapat melihat beberapa hasil yang bervariasi, dimulai dari tekanan, kecepatan, bahkan kurva dari hasil simulasi yang sudah dilakukan. berikut merupakan hasil dari pembuatan mesh yang diajarkan:

Hasil Mesh.jpg

Dan berikut merupakan hasil kurva dan analisis kecepatan (V) yang terjadi pada aliran pipa 2D sesuai dengan arahan dari bang Edo:

Percobaan 1 jenizhar.jpg

dari pertemuan pada hari ini, bang Edo memberikan kami sedikit pertanyaan-pertanyaan terkait dengan materi yang disampaikan yaitu:

1. apa itu entrance region/aliran masuk?

2. apa itu aliran sempurna?

3. apa pengaruh viskositas? dan pengaruh pressure drop dalam pipa

4. gimana cara menghitung pressure drop suatu aliran dalam laminar/turbulen

5. apa itu entrance region dan fully developed flow, entrance length?

Jawab :

1. Entrance Region merupakan daerah dimana fluida baru masuk dan kecepatannya beragam. kecepatan fluida masih bergantung kepada jarak (x) dari pipa pada entrance region yang disebabkan oleh efek viskositas selama fluida masih ada pada boundary layer

2. Fully developed flow merupakan aliran pada daerah setelah Entrance region flow. pada aliran ini, fluida sudah keluar dari boundary layer dan sudah tidak dipengaruhi oleh efek viskositas

3. Viskositas sendiri dapat diartikan kepekatan fluida yang dapat menjelaskan besar kecil sentuhan dalam fluida. Dalam pipa semakin besar viskositas semakin sulit fluida dalam pipa untuk bergerak. Sebagai contoh jika fluida berupa air dan oli dialirkan dalam suatu pipa, maka air akan lebih cepat mengalir karena viskositas air lebih kecil dari oli dan molekul air yang bersentuhan dengan area pipa lebih cepat mengalir. Pressure drop dideskripsikan penurunan tekanan dari satu titik dalam sistem contohnya pipa ke titik lain yang memiliki tekanan lebih rendah. Dalam aplikasinya pada pipa pressure drop meningkat sebanding dengan gesekan dalam jaringan pipa, begitupun sebaliknya.

4. Bagaimana cara menghitung pressure drop suatu aliran dalam laminar/turbulen?

                                                    ΔP = f.1/2.l/D.ρ.V^2  
                                                          f = 64/Re

Keterangan :

ΔP = Pressure drop (perbedaan tekanan) (Pa)

l = Panjang pipa pengukuran tekanan (m)

D = diameter pipa (m)

ρ = Densitas fluida (kg/m^3)

V = Kecepatan aliran fluida (m/s)

Re = Bilangan Reynold : Laminar (<2100) Turbulen (>2100

5. Karena entrance region dan fully developed flow sudah dijelaskan pada poin 1 dan 2, pada poin 5 saya hanya akan membahas tentang entrance lenght. Entrance lenght (le) merupakan panjang dari entrance region. Hal ini dipengaruhi oleh jenis aliran yaitu laminar atau turbulence. jenis-jenis aliran bergantung pada reynold number (Re) yang dapat dirumuskan dengan:

le/D = 0,06 Re untuk aliran laminar

le/D = 4,4 (Re)^1/6 untuk aliran turbulence




PERTEMUAN 2 : 1 April 2020


Assalamualaikum Wr. Wb

Pada pertemuan ini, Pak Dai dan Mas Edo memberikan materi tentang "hukum konservasi". Istilah konservasi sendiri adalah apabila suatu benda dapat bergerak dengan adanya suatu energi kinetik (Ek) dan energi potensial (Ep). Konsep konservasi tersebut diaplikasikan kepada massa, momentum, serta energi pada mekanika fluida yang dibagi menjadi 3 yaitu:

1. Hukum konservasi massa

dm/dt = 0

2. Hukum konservasi momentum

M. dV/dt = sigmaF

3. Hukum konservasi energi

dE/dt = W + Q

kemudian materi berikutnya yang disampaikan adalah penjelasan dari pertanyaan materi pada pertemuan 1 yaitu Entrance Region, Fully Developed Flow, dan Entrance lenght dimana penjelesan - penjelasan tentang istilah-istilah tersebut sudah saya paparkan pada jawaban di pertemuan 1. berikut merupakan ilustrasi dari istilah - istilah tersebut

Entrance region jeni.jpg

Setelah penjelasan materi oleh pak Dai, ada soal latihan Cfdsof dari bang edo untuk dikerjakan dan disimulasikan. soal dapat dilihat seperti berikut

Pertanyaan pertemuan2 mizan.jpg



PERTEMUAN 3 : 7 April 2020


Assalamualaikum wr. wb

sebelum memasuki simulasi dengan bang edo, Pak Dai menjelaskan materi tentang persamaan matematis aliran fluida (governing equation) yang mengatur bagaimana aliran fluida. Dapat dilihat contohnya pada file dari pak Dai dibawah ini:

Laminar flow through the parallel- plate analytical sol 1.png

Selanjutnya Pak Dai membahas materi tentang gaya inersia. Bilangan reynolds mempengaruhi peranan gaya inersia. contohnya apabila bilangan reynolds tinggi, maka gaya inersia lebih mendominasi daripada gaya viskositas. contohnya gaya pada aliran fluida pada sayap pesawat. contoh apabila viskositas lebih dominan, yaitu lubricants dengan oli. dengna bilangan reynolds yang tinggi, maka aliran akan semakin turbulens begitu pula sebaliknya. Dapat dilihat rumus bilangan reynolds

Re = Inertia force/friction force (viskositas)

pada sisi masuk, kecepatan seragam atau sama. Sesaat setelah masuk, ada interaksi fluida dengan dinding yang menimbulkan adanya boundary layer. Daerah tersebut disebut dengan entrance region. Selanjutnya ada fully developed flow atau aliran berkembang penuh. Biasanya rummus - rumus empiris angka-angkanya dimasukkan setelah aliran mencapai fully developed flow.

Pengaruh viskositas terhadap entrance region yaitu apa bila viskositas rendah maka fully developed semakin lambat. jadi fluida yang lebih encer fully developednya semakin lambat begitu pula sebaliknya. hal ini juga berpengaruh dengan berubahnya inersia dengan hubungan yang sudah dijelaskan sebelumnya

dalam aliran yang ditinjau, ada tiga gaya yang berinteraksi yaitu gaya inersia, tekanan, dan gesekan.

Selanjutya Pak Dai memberikan soal 8.2 sebagai berikut:

Soal 8.2.jpg

pertama-tama bang Edo mencontohkan dengan membuat pipa 3d terlebih dahulu pada software Inventor atau SOlidworks dan memisahkan mana outlet, inlet, dan wall. kemudian file di save dengan format .STL agar bisa di import ke Cfdsof.



PERTEMUAN 4 : 8 April 2020


Assalamualaikum Wr.wb

Selamat siang

Pada pertemuan hari ini PJJ atau pembelajaran jarak jauh dibuka oleh Pak Dai sendiri dengan membahas soal 8.4 dari buku Munson. Pak Dai menyebutkan bahwa fluida merupakan zat yang terdeformasi secara terus menerus. Menyebabkan perubahan momentum dari lapisan ke lapisan. Untuk Reynold number yang rendah, lapisan akan bergerak secara ideal karena masih terpengaruh efek viskositas dengan besar. Tidak ada lapisan yang memotong lapisan lain atau disebut juga dengan Aliran Laminar. Untuk Re yang mulai membesar, lapisan mulai berosilasi (bisa saling memotong atau tidak) disebut dengan aliran Transisi. Untuk aliran turbulens memiliki Re yang sangat besar. Untuk kecepatan aliran pada aliran turbulens di titik masuk, kecepatan selalu berubah tiap mili-second sehingga disebut dengan rapid fluctuation

untuk mengetahui tegangan geser, harus mengetahui medan aliran untuk mengetahui kecepatan lokal di setiap titik (U). Pada aliran turbulens, sulit untuk menentukan U di setiap titik karena selalu berubah-ubah setiap saatnya. Untuk memperkirakan kecepatan lokal di titik A misalnya, harus menggunakan pendekatan statistik. Va (kecepatan rata-rata) tidak menggambarkan kecepatan aliran turbulens. Kita harus menguraikan menjadi kecepatan rata-rata dan kecepatan fluktuasi jadi:

Va = Vbar + V'

Rumus Vbar dapat dilihat pada Eq.25 bab 8 pada buku munson

pada aliran turbulens, terjadi pusaran-pusaran yang disebut dengan Eddies. Eddies pada setiap pusaran berbeda-beda pada aliran turbulens. longest fluctuation adalah waktu yang dibutuhkan untuk menjalani satu pusaran.

Kemudian, bang Edo menjelaskan tentang hasil simulasi antara aliran laminar dan turbulen. pada hasil simulasi aliran turbulen, efek viskositas atau daerah biru menjadi semakin tipis.

Juga dapat dilihat pada grafik, dapat dibandingkan bahwa kurva yang cokelat yaitu laminar dan yang biru adalah turbulen. Grafik biru menunjukkan bahwa pada titik dimana fluida mulai menjauhi dinding pipa, maka efek viskositas dan tegangan geser dinding semakin berkurang drastis sehingga yang dominan adalah tegangan geser turbulens.

Selanjutnya yaitu kurva disipasi energi pada fluida. Dapat dilihat dengan mendekatnya fluida ke dinding maka semakin besar juga disipasi energi karena efek viskositas. jadi energi seperti diserap oleh sub layer.



PERTEMUAN 5 : 14 April 2020


Assalamualaikum wr.wb

Pada hari ini pak Dai mengadakan kuis untuk membuat artikel - artikel yang berjumlah 6. yaitu

ARTIKEL 1

Pengaruh Viskositas Terhadap Profil Kecepatan Aliran Laminar

Assalamualaikum wr. Wb

Pada soal example 3.5 ini, diarahkan untuk membuat simulasi untuk mengetahui profil dan perkembangan kecepatan pada entrance region dan entry length pada aliran pipa. Dengan kecepatan masuk dan ukuran pipa yang diketahui. Kita menggunakan simulasi pada cfdsof untuk mengetahui bagaimana profil kecepatan yang berubah seiring dengan masuknya fluida ke dalam pipa. Diketahui pula pada soal 2 viskositas dinamik yang digunakan untuk membandingkan profil kecepatan pada aliran tersebut. Pada soal b disebutkan 2 kecepatan Inlet yang berbeda dan 1 viskositas dinamik. Pada artikel ini saya akan menjelaskan lebih ke konsep dan aplikasi dimana pengaruh keepatan masuk dan viskositas dinamik terhadap profil kecepatan fluida.

Pertama-tama saya akan menjelaskan apa itu entrance region dan entrance length terlebih dahulu. Pada saat fluida masuk kedalam pipa dengan kecepatan inlet, fluida tersebut melaju semakin ke dalam pipa dan dipengaruhi oleh visk ositas fluida sehingga terjadi efek viskositas dengan munculnya boundary layer. Efek viskositas atau kekentalan ini mempengaruhi fluida sehingga profil kecepatan fluida berbeda-beda. Contohnya profil kecepatan fluida pada dinding pipa dan pada tengah pipa berbeda. Kecepatan inlet ini berubah sehingga suatu titik dimana profil kecepatannya sudah menjadi tetap dan stabil yang disebut fully developed flow. Pada tahap ini sudah tidak ada boundary layer. Daerah dimana profil kecepatan fluida ini berubah karena efek viskositas dinamakan Entrance Region dan panjangnya disebut Entrance length.

Kemudian saya akan menjelaskan tentang prinsip viskositas. Viskositas merupakan kekentalan fluida. Fluida yang menempel pada dinding memiliki kecepatan 0 sehingga mempengaruhi profil kecepatan terhadap H atau tinggi pada pipa. Semakin dekat fluida dengan dinding maka fluida akan semakin tergesek dengan dinding sehingga kecepatan pada tengah pipa merupakan kecepatan yang paling besar. Dengan viskositas yang berbeda-beda pada tiap fluida, maka akan berbeda-beda juga profil kecepatannya. Yang pada ujungnya akan mempengaruhi Reynolds number.

Salah satu parameter yang digunakan juga adalah Reynolds number. Reynolds number ini menentukan bagaimana jenis aliran tersebut. Dengan rumus :

Re = inertia/ friction force

Re < 2100 : laminar

Re > 2100 : Turbulen

Dari grafk tersebut dapat disimpulkan bahwa entrance length dipengaruhi oleh efek viskositas dan kecepatan inlet. Sedangkan besar kecepatan terhadap H hanya dipengaruhi oleh kecepatan inlet dan profil kecepatan terhadap H dipengaruhi oleh efek viskositas. Menurut cfd simulasi yang telah dilakukan, disebutkan bahwa perbedaan viskositas dinamik mempengaruhi panjang entrance length. Dengan viskositas dinamik yang lebih besar yaitu 4 x 10-5, entrance lenght pada grafik 3.5.2 lebih pendek dibanding grafik 3.5.3 dimana pada grafik tersebut entrance length lebih panjang. Pada perbandingan grafik 3.5.4 dan 3.5.5 menunjukan bahwa grafik dengan kecepatan inlet lebih tinggi membuat entrance length jadi semakin panjang. Aplikasi aliran laminar dan efek viskositas adalah keran air pada wastafel. Air pada keran air apabila yang dibuka hanya dikit maka air yang keluar adalah aliran laminar karena kecepatan inlet yang masuk kecil. Apabila keran air dibuka dengan lebar maka terjadi aliran turbulens karena kecepatan inlet besar dan terjadi pusaran-pusaran didalam aliran pipa yang dipengaruhi oleh efek viskositas dan berpengaruh kepada Reynolds number karena inertia berbanding lurus dengan u atau kecepatan.   ARTIKEL 2

Gaya dan Perhitungan Matematis yang Mempengaruhi Aliran Fluida

Gaya pada aliran fluida sangat mempengaruhi bagaimana perhitungan maupun sifat dari aliran tersebut. dalam aliran yang ditinjau, ada tiga gaya yang berinteraksi yaitu gaya inersia, tekanan, dan gesekan. Pada artikel ini saya lebih akan membahas tentang gaya inersia. Bilangan reynolds mempengaruhi peranan gaya inersia. contohnya apabila bilangan reynolds tinggi, maka gaya inersia lebih mendominasi daripada gaya viskositas. contohnya gaya pada aliran fluida pada sayap pesawat. contoh apabila viskositas lebih dominan, yaitu lubricants dengan oli. dengna bilangan reynolds yang tinggi, maka aliran akan semakin turbulens begitu pula sebaliknya. Dapat dilihat rumus bilangan Reynolds:

Re = Inertia force/friction force (viskositas)

pada sisi masuk, kecepatan seragam atau sama. Sesaat setelah masuk, ada interaksi fluida dengan dinding yang menimbulkan adanya boundary layer. Daerah tersebut disebut dengan entrance region. Selanjutnya ada fully developed flow atau aliran berkembang penuh. Biasanya rummus - rumus empiris angka-angkanya dimasukkan setelah aliran mencapai fully developed flow.

Pengaruh viskositas terhadap entrance region yaitu apa bila viskositas rendah maka fully developed semakin lambat. jadi fluida yang lebih encer fully developednya semakin lambat begitu pula sebaliknya. hal ini juga berpengaruh dengan berubahnya inersia dengan hubungan yang sudah dijelaskan sebelumnya Kemudian berikutnya adalah persamaan matematis yang digunakan untuk mempengaruhi aliran. Ada 3 persamaan matematis yaitu hokum konservasi. Istilah konservasi sendiri adalah apabila suatu benda dapat bergerak dengan adanya suatu energi kinetik (Ek) dan energi potensial (Ep). Konsep konservasi tersebut diaplikasikan kepada massa, momentum, serta energi pada mekanika fluida yang dibagi menjadi 3 yaitu:

1. Hukum konservasi massa

dm/dt = 0

2. Hukum konservasi momentum

M. dV/dt = sigmaF

3. Hukum konservasi energi

dE/dt = W + Q

Oleh : Jenizhar Adivianto - 1806181810   ARTIKEL 3

Analisis Grafik Profil Kecepatan Hasil Simulasi Aliran Laminar dan Turbulen

Pada artikel ini, saya akan membahas perbandingan grafik dari hasil simulasi aliran laminar dan turbulen. Patut diketahui terlebih dahulu, jenis-jenis aliran tersebut dipengaruhi oleh Reynolds number yang berisi gaya gesek dan gaya inersia. Aliran laminar merupakan aliran dengan kecepatan yang seragam di semua titik-titiknya sedangkan aliran turbulen merupakan aliran yang kecepatannya tidak seragam diantara titik-titiknya karena dipengaruhi oleh faktor-faktor yang terdapat pada Reynolds number tersebut.

Berikut merupakan analisis hasil grafik yang sudah tertera pada soal. Table yang pertama adalah perbandingan kecepatan yang sudah di normalisasi agar dapat dilihat dengan mudah pada grafik. Apabilla kecepatan hanya besaran atau magnitudnya saja, maka kecepatan pada aliran laminar sangat jauh lebih kecil besarannya disbanding aliran turbulen, maka sebab itu, harus dinormalisasi terlebih dahulu. Pada table ini dapat dilihat grafik profil kecepatan pada aliran laminar halus membentuk suatu kurva dimana puncaknya adalah ditengah pipa. Hal itu merupakan hal yang benar karena dengan adanya efek viskositas maka fluida yang menempel pada dinding yaitu 0 dan kecepatan paling besar berada pada tengah pipa karena tidak ada kontak dengan dinding.

Untuk grafik yang turbulen menunjukan kecuramannya saat dekat dengan dinding pipa tetapi kurva tidak terlalu memuncak. Hal ini terlihat pada grafik lebih rendah daripada aliran laminar, sebenarnya tidak. Dengan perbedaan kecepatan inlet yaitu 0,2m/s dan 1m/s, dapat terlihat perbedaan kecepatan inlet yang sangat jauh yang pada akhirnya mempengaruhi Reynolds number terutama inersia mejadi sangat tinggi. Grafik seperti ini menunjukan bahwa dari profil kecepatan terhadap H yang dipengaruhi viskositas pada aliran fluida tersebut tidak tersebar secara konstan sehingga membuat kecepatan pada aliran turbulen tidak seragam.

Oleh : Jenizhar Adivianto – 1806181810


ARTIKEL 4

Konsep Dasar Pressure Drop

Penurunan tekanan (pressure drop) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan penurunan tekanan dari satu titik dalam pipa atau tabung ke ujung lainnya. "Penurunan tekanan" adalah hasil dari gaya gesek pada fluida ketika mengalir melalui tabung yang disebabkan oleh resistensi terhadap aliran. Faktor utama resistensi terhadap aliran fluida adalah kecepatan fluida melalui pipa dan viskositas fluida. Aliran fluida akan selalu mengalir dalam yang tekanannya kurang

Penurunan tekanan meningkat sebanding dengan gaya geser gesek dalam jaringan pipa. Penurunan tekanan dipengaruhi oleh sebuah jaringan pipa yang berisi rating kekasaran relatif tinggi serta banyak pipa fitting dan sendi, konvergensi tabung, divergensi, kekasaran permukaan dan sifat fisik lainnya. Selain itu Perubahan energi kinetik dan perhitungan penurunan tekanan yang disebabkan oleh gesekan dalam pipa melingkar juga berpengaruh terhadap pressure drop. Kecepatan aliran tinggi dan / atau cairan viskositas tinggi dalam hasil penurunan tekanan yang lebih besar di bagian pipa atau katup atau siku. Kecepatan rendah akan mengakibatkan penurunan tekanan yang lebih rendah atau tidak ada.

Penurunan tekanan dapat dihitung dengan 2 nilai yaitu Reynolds number (menentukan laminer atau aliran turbulen), dan kekasaran relatif pipa, ε / D. NRE = Dvρ / μ Dimana D adalah diameter pipa dalam meter, v adalah kecepatan aliran dalam meter per detik, ρ adalah densitas dalam kilogram per meter kubik, dan μ adalah dalam kilogram per meter-detik.

Ukuran dari sebuah saluran pipa biasanya berdasarkan pada keseimbangan antara pressure drop di satu pihak dan biaya serta berat di pihak lain.. Pressure drop dalam sebuah pipa adalah fungsi dari kecepatan berat jenis dan kekentalan / viscositas dari cairan dan panjang serta diameter pipa.

Selain itu pressure drop juga berfungsi sebagai sifat aliran / arus termasuk jumlah dan jari – jari serta tingkat turbulensi. Didalam penggunaanya dilaut , dimana saluran pipa biasanya pendek , bagian terbesar dari jumlah pressure drop dalam sebuah sistem akan terjadi didalam saluran keran   ARTIKEL 5

Faktor yang Mempengaruhi Angka Rasio Tegangan Geser pada Aliran Laminar dan Turbulen.

Pada artikel ini saya akan membahas hal-hal apa saja yang mempengaruhi rasio angka perbandingan antara tegangan geser pada aliran laminar dan turbulen.

menurut pendapat saya, gaya geser laminar dan turbulens merupakan gaya geser yang disebabkan oleh masing-masing aliran tersebut. pada suatu alira pipa kemungkinan besar terdapat dua-duanya walaupun salah satu memungkinkan sangat kecil jumlahnya. contohnya pada soal ini gaya geser turbulens sangat jauh lebih besar perbaningannya dengan gaya geser laminar, hal ini sudah dapat diprediksi karena aliran merupakan aliran turbulens. Jadi angka tersebut menurut saya normal. hal yang bisa mempengaruhi angka tersebut adalah variabel yang ada di rumus Gayageser laminar pada solusi (c) yaitu turunan dari Eq.31 pada buku munson dan miu = (pv). jadi, apabila angka itu mengecil, berarti gaya geser yang dipengaruhi oleh aliran turbulens menjadi semakin sedikit dan yang dipengaruhi aliran laminar semakin banyak

untuk mengetahui tegangan geser, harus mengetahui medan aliran untuk mengetahui kecepatan lokal di setiap titik (U). Pada aliran turbulens, sulit untuk menentukan U di setiap titik karena selalu berubah-ubah setiap saatnya. Untuk memperkirakan kecepatan lokal di titik A misalnya, harus menggunakan pendekatan statistik. Va (kecepatan rata-rata) tidak menggambarkan kecepatan aliran turbulens. Kita harus menguraikan menjadi kecepatan rata-rata dan kecepatan fluktuasi jadi:

Va = Vbar + V'

Rumus Vbar dapat dilihat pada Eq.25 bab 8 pada buku munson

pada aliran turbulens, terjadi pusaran-pusaran yang disebut dengan Eddies. Eddies pada setiap pusaran berbeda-beda pada aliran turbulens. longest fluctuation adalah waktu yang dibutuhkan untuk menjalani satu pusaran. Eddies merupakan konsep dasar dari aliran turbulens.

Jadi faktor yang paling mempengaruhi rasio tegangan geser adalah kecepatan local di setiap titik (U).

ARTIKEL 6

Perbandingan Faktor yang Mempengaruhi Pressure Drop Padaa Aliran Laminar dan Turbulen

penurunan tekanan dapat dihitung menggunakan rumus berikut: Δp = v ² × f × L × ρ

                2D

dimana

Δp = penurunan tekanan dalam pascal (Pa)

v = kecepatan dalam meter per detik (m / detik)

f = faktor gesekan

L = panjang pipa atau selang dalam meter (m)

ρ = densitas cairan dalam kilogram per meter kubik (870-890 kg / m³ untuk minyak hidrolik)

D = diameter dalam pipa atau selang dalam meter (m)

Jika bilangan Reynolds <2320, disebut aliran laminar.

Aliran laminar ditandai dengan meluncur dari lapisan konsentris silinder melewati satu sama lain dalam mode tertib. Kecepatan fluida pada maksimum pada sumbu pipa dan menurun tajam ke nol pada dinding. Penurunan tekanan yang disebabkan oleh gesekan aliran laminar tidak tergantung dari kekasaran pipa.

koefisien gesekan pada Pipa aliran laminar:

λ=64/Re

dimana:

λ = Koefisien Gesekan Pipa

Re = bilangan Reynolds

Catatan: pipa mulus sempurna akan memiliki kekasaran nol.

Jika bilangan Reynolds> 2320, disebut aliran turbulen. Dikatakan aliran turbulen jika ada gerakan tidak teratur partikel fluida dalam arah melintang terhadap arah aliran utama. Distribusi kecepatan aliran turbulen lebih seragam di seluruh diameter pipa daripada di aliran laminar. Penurunan tekanan yang disebabkan oleh gesekan aliran turbulen tergantung pada kekasaran pipa.

koefisien gesekan pada Pipa aliran turbulen (dalam kasus):

1/(√λ) = -2 log [2,51/(Re.√λ) +k/D x 0,269]

dimana: λ = Koefisien Gesekan Pipa g = Percepatan Gravitasi Re = Reynolds Nomor k = Mutlak (Kekerasan) D = Diameter Pipa




PERTEMUAN 6 : 15 April 2020


Assalamualaikum wr wb

Selamat siang

Pada hari ini pembelajaran jarak jauh (PJJ) dibuka oleh pak Dai pada jam 13.00. pertama-tama pak Dai menjelaskan bahwa Fundamental dari mekanika fluida harus dapat dikuasai terlebih dahulu sehingga pak Dai selalu menekankan konsep - konsep dan teori dari mekanika fluida. Selanjutnya Pak Dai membahas tentang daya (P) dan Tekanan (p). Rumus daya adalah

P = F . V

F = Gaya

V = Kecepatan

Selanjutnya pak Dai menjelaskan bahwa tegangan adalah energi per satuan volume. Salah satu hukum untuk fluida adalah hukum konservasi energi dengan rumus:

dE/dt = Q + W

e = u + 1/2v^2 + h

Persamaan bernoulli merupakan turunan dari hukum konservasi energi dengan rumus

P + 1/2pv^2 + ro(p).g.h = konstan (Ideal = no energy loss) incompressible, no viscosity

ro(p).g = gamma (specific gravity)

Perbedaan incompressible fluid dan incompresible flow. contohnya adalah udara. udara adalah compressible fluid tetapi jika kecepatan dibawah 100 m/s dan A < 0,3 maka menjadi incompressible flow. compressible flow adalah apabila terjadi perubahan density pada flownya. perubahan density tersebut biasa terjadi karena kecepatan yang sangat tinggi.

Persamaan energi aliran fluida real/viskos untuk incompressible dan steady state. Pada airan real, terjadi loss antara inlet dengan outlet. ada 2 loss yaitu major dan minor losses. pertama, Major losses disebabkan oleh gesekan dinding /viskositas. Energi berkurang karena disipasi energi. Untuk moinor losses yaitu gesekan yang terjadi bukan pada dinding. Salah satu metode yang sering dipakai adalah moody diagram.

RUmus bernoulli bisa dengan deltaP atau hl

DeltaP = f.L/D.ro(p).v^2 (major loss)

f = faktor gesek -> dapet dari reynolds number dan kekasaran pipa (Epsilon) semakin kasar pipa maka semakin tidak berpengaruh bilangan reynolds (didapatkan dari Moodys diagram). karena terdapat vortex-vortex yang semakin besar dan banyak pada aliran apabila pipanya semakin kasar.

L = panjang pipa

D = diameter

v = kecepatan

hl = Energi yang digunakan fluida untuk 1 N air untuk ketinggian 10 meter (Nm/N) (joule/berat)

f.L/D = K

K biasa digunakan untuk minor losses sedangkan f.L/D untuk major losses


Contohnya terdapat pada pompa, daya pompa yaitu:

Ppompa = Gamma.Q.h

Gamma = specific gravity

Q = debit

h = tinggi pipa

minor losses contohnya terjadi pada pembesaran pipa. Ada konsumsi energi, semakin besar perbandingan diameter maka semakin besar minor lossesnya. contoh lainnya yaitu pada pipa yang membelok, disitu terjadi vortex (secondary flow). Secondary flow ini yang menyebabkan minor losses.

selanjutnya pak Dai memberikan tugas untuk mensimulasikan aliran dengan membuktikan adanya secondary flow (vortex) untuk mengetahui adanya minor losses atau tidak. Boleh pembesaran pipa, pengecilan, atau pipa yang membelok. Bandingkan dengan yang dibuku.



PERTEMUAN 7 : 21 April 2020


Assamualaikum wr wb

pada hari ini pertemuan difokuskan dengan bang Agil M16. menyampaikan materi dari skripsi beliau mengenai konversi energi air ke mekanikal energi. Konsep tersebut adalah gaya yang ditimbulkan oleh air menyebabkan gerakan blade turbin air akibat perubahan momentum. Dengan energi kinetik menyebabkan perubahan momentum dan energi potensial terjadi karena perbedaan ketinggian H.



PERTEMUAN 8 : 22 April 2020


Assalamualaikum Wr. Wb Selamat siang

Pada pertemuan kali ini kami ditanyakan satu per satu oleh pak Dai untuk mempresentasikan kontribusi kami pada AIR dan menjelaskan salah satu materi yang paling kita pahami. Dimulai dari Abjad A sampai akhirnya giliran saya terpanggil.

Disini saya mempresentasikan materi dengan topik reynolds number dan bagaimana reynolds number mempengaruhi jenis aliran. Saya menjelaskan bahwa reynolds number berbanding lurus dengan Kecepatan masuk dan berbanding terbalik dengan viskositas. disini daya bisa menyimpulkan bahwa apabila viskositas rendah maka aliran tersebut cenderung turbulen dan apabila viskositas tinggi maka aliran tersebut cenderung ke laminar. tidak lupa juga disini bergantung pada kecepatan masuk, massa jenis air, dan ketinggian pipa. Tetapi menurut saya yang paling berpengaruh adalah viskositas fluidanya.

Sebagai anak teknik, menurut saya pembahasan ini sangat penting untuk mengetahui dasar-dasar sistem mekanika fluida. Dengan mengetahui dasar-dasar fundamental ini, kita akan semakin dapat lebih mudah untuk mempelajari hal-hal yang lebih kompleks nantinya dan tidak bingung lagi apabila ada problem yang harus diselesaikan

Setelah itu pak Dai memberi ringkasan tentang hal-hal yang akan dipelajari Pasca uts yaitu internal flow dan external flow

- internal flow adalah aliran yang dibatasi oleh dinding (benda padat)

- External Flow adalah aliran yang boundarynya tidak dibatasi semuanya oleh benda padat atau dinding

Tugas besar yang akan dibuat yaitu : buat simulasi internal flow atau external flow (bebas) dan aplikasinya untuk engineering

kira - kira sekian untuk pertemuan kali ini Wassalamualaikum Wr Wb



PERTEMUAN 9 : 28 April 2020


Assalamualaikum Wr. Wb Selamat siang

Pada pertemuan kali ini, PJJ dibuka oleh pak Dai dengan menindak lanjuti tanya jawab yang belum selesai pada minggu lalu



PERTEMUAN 10 : 29 April 2020


Assalamualaikum Wr. Wb

Pada pertemuan PJJ kali ini, Kelas dibuka oleh Pak Dai dan Bang Edo tentang bab baru yang berjudul flow over immersed body. Contoh dalam kehidupan sehari-hari yaitu fluida melewati bangunan atau bodi mobil. Contoh kasus external flow lainnya yaitu penyebaran virus. Konsentrasi belajar kita yaitu bagaimana efek external flow terhadap benda yang tenggelam oleh fluida tersebut atau gaya-gaya yang terjadi dengan benda yang berinteraksi dengan fluida. Gaya ini disebabkan oleh adanya tegangan. Pressure merupakan normal stress. Pada gambar 1 mennunjukan distribusi tekanan. Menimbulkan efek gaya keatas dengan memanipulasi sehingga resultan gaya akan berarah keatas. Dengan berinteraksi dengan fluida, benda akan mengalami shear stress atau gesekan. Pak Dai menekankan perbedaan normal stress dengan shear stress. normal stress yang tegak lurus dengan benda sedangkan shear stress yang pararel dengan benda. untuk menghitung hambatan air foil yaitu

p.(s).dA

dA = ds.tebal sayap

Dibagi 2 zona yaitu free stream (inviscid) dan zona viskos. berkaitan dengan bilangan reynolds, apabila Re kecil maka zona akan melebar dan apabila Re besar maka zona akan menipis ke sekitar dinding saja.

Kemudian Pak Dai menjelaskan bagaimana menentukan boundary pada simulasi. boundary harus diperkirakan pada daerah dimana viskositas sudah tidak mempengaruhi fluida. untuk atas dan depan biasanya 2L, tetapi nilai itu tidak pasti, harus dengan trial error. untuk bagian belakang diperkirakan yaitu 10L karena pada belakang benda psti akan terjadi vortex sehingga boundary harus menunggu sampai kecepatan aliran menjadi seragam kembali. Boundary pesawat berbeda dengan mobil, pesawat tidak ada wall sedangkan mobil ada wall di bagian bawah.

Kemudian kelas dilanjutkan dengan simulasi yang dipimpin oleh bang edo. pada simulasi kali ini kami mengsimulasikan external flow dengan mobil yang melaju. pertama-tama, mengimport geometri mobil yang sudah dibuat ke dalam cfd sod. Kemudian menentukan mesh dan boundary karena kita hanya ingin menguji untuk dua dimensi jadi mesh dalam dimensi z kita kecilkan. Gambar boundary dan hasil mesh dapat diihat pada gambar dibawah ini.

Boundary yang dimasukkan
Hasil meshing

setelah itu bang Edo mengajarkan kami tentang refinement. refinement berguna untuk merapatkan mesh sesuai yang kita mau, contohnya kita ingin membuat simulasi pada daerah permukaan mobil menjadi lebih detil, maka kita gunakan refinement.

Box dari refinement

selanjutnya, kita memasukan fluid properties dan mengsimulasikan external flow ini. Fluid properties termasuk Re, kecepatan, dll kita hitung terlebih dahulu pada excel agar lebih mudah dan otomatis. berikut hasil hitungan fluid properties yang digunakan

Hitungan Fluid Properties

Kemudian, berpindah ke CFD solve dan run solver untuk mengetahui bagaimana hasil simulasinya. Simulasi dilakukan dengan runtime 10 detik dan akan di rekam hasilnya setiap 0,1 detik sehingga nanti akan terlihat hasil simulasi per 0,1 detik. Saat selesai Run solver, maka halaman akan otomatis membuka Paraview untuk melihat hasil simulasi. Hasil simulasi pada detik 0 dan detik 10 dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Detik 0 simulasi
Detik 10 simulasi
Detik 10 simulasi Surface LIC

Kesimpulan yang dapat diambil adalah terbukti bahwa pada external flow yang melewati suatu permukaan bodi mobil akan menimbulkan vortex pada daerah belakang yang beragam tergantung dengan Reynolds number fluida tersebut. Apabila Reynolds number besar maka akan terjadi vortex yang besar dan sebaliknya. Tetapi apabila Reynolds number sudah diatas 10^5 dan semakin tinggi lagi, maka daerah vortex pada belakang bodi mobil atau permukaan semakin menyempit



SINOPSIS TUGAS BESAR : ANALISIS PENGARUH JARAK ANTARA 2 MOBIL TERHADAP EKSTERNAL FLOW PADA METODE SLIP STREAM


Assaamualaikum wr. wb

Berikut merupakan sinopsis tugas saya yang membahas tentang pengaruh jarak antara dua mobil terhadap keefektifan metode slip stream. Slip Stream merupakan metode untuk mobil melaju lebih kencang dengan mengurangi hambatan angin/fluida dengan cara menetapkan posisi mobil tepat dibelakang mobil lainnya sehingga hambatan angin hanya akan diterima oleh mobil depan. Dengan metode ini, mobil dengan tenaga yang lebih rendah dapat mendahului mobil yang tenaganya leih besar. Hal yang ingin saya fokuskan adalah bagaimana jarak mempengaruhi aliran fluida yang melewati mobil pertama dan kedua sehingga kita dapat mengetahui jarak yang cocok agar metode slip stream ini maksimal. Berikut merupakan ilustrasi dari metode slip stream.

ilustrasi slip stream

PERTEMUAN 11 : 05 Mei 2020

Assalamualaikum wr. wb.

Pada pertemuan PJJ kali ini, kelas dibuka oleh Pak Dai untuk melanjutkan diskusi perorangan. Sebelum dimulai, Pak Dai menekankan prinsip penilaian dalam pembelajaran kami yaitu disebut gradien penilaian. Ada 3 penilaian yaitu:

1. SoftSkill

2. Understanding

3. Analytical

Kami diarahkan untuk mempresentasikan kontribusi belajar kami dengan 3 faktor tersebut.

PERTEMUAN 12 : 06 Mei 2020

Assalamualaikum wr. wb

Pada pertemuan kali ini pak Dai memberikan kesempatan untuk mahasiswa yang belum mempresentasikan kontribusi mereka di wikipage.

PERTEMUAN 13 : 12 Mei 2020

Assalamualaikum wr. wb.

Pada pertemuan kali ini, kelas di buka oleh pak Dai dengan membahas soal pada air.eng mengenai pararel plate flow. Pak dai menjelaskan bahwa Drag dihasilkan oleh Dp + Df + Dn. Dn adalah secondary flow(vortex). Contohnya adalah wingtip pada sayap pesawat yang menghasilkan wingtip vortex. Ini bertujuan untuk mengeliminasi vortex pada sayap. untuk kasus latihan soal Example 9.1, kasus pelat yang pararel menggunakan Df atau friction dan yang perpendicular menggunakan Dp atau tekanan.

Pada air foil, ada yang namanya lapisan batas. Letaknya dekat dengan permukaan. Pada daerah itu viskositas dapat diabaikan. Kecepatan pada bagian atas air foil lebih cepat karena memiliki luas permukaan yang lebih sempit apabila diibaratkan ada dalam sebuah pipa. Dan juga sebaliknya untuk bagian bawah. Menggunakan rumus

                      A1v1 = A2v2

Ada juga penjelasan tentang teori bahwa jarak tempuh pada bagian atas air foil sehingga kecepatan pada bagian atas menadi lebih cepat daripada yang bawah karena dengan jarak tempuh yang berbeda fluida harus sampai dari titik A ke titik B dengan bersamaan.

Kemudian Pak Dai juga mengajak berdiskusi untuk menjelaskan bagaimana terjadi perbedaan tekanan pada bagian atas dan bawah air foil. Hal ini terjadi karena pada bagian atas tekanannya menurun dan yang bagian bawah tidak berubah. hal ini terjadi karena pada bagian atas fluida mengalami perubahan kecepatan. Pak Dai menjelaskan bahwa kita bisa juga mengambil batas imajiner dengan h1 = h2. Pada upstream, fluida akan melalui penampang - penampang yang berbeda. Pada downstream tidak ada perubahan kecepatan karena penampang relatif sama.

PERTEMUAN 14 : 13 Mei 2020

Asslamualaikum wr. wb.

Pada pertemuan kali ini, kelas dibuka oleh pak Dai dengan mengamati perkembangan progress tugas besar dari masing - masing individu. Kami mempresentasikan konsep dasar dan sinopsis dari tugas besar kami serta didiskusikan bersama oleh kelas dan pak Dai.